Hi All,

•November 24, 2008 • 5 Comments

Hi All,

Hari gini baru mulai ngeblog…? ketinggalan jaman kali ya…hehehehe, mungkin itu komentar banyak orang melihat blog ini baru lahir. Bahkan, ketika kemarin saya mengunjungi ‘rumah’ salah seorang teman lama, ia mengkritik habis-habisan (dengan sedikit sinis pula) tentang blog, atau rumah maya. Intinya bahwa era blog sudah berakhir. Apapun deh, kalo kata alamarhum sahabat saya dulu ‘whatever’ (harus diucapkan ‘wadeva’..ala-ala orang bule, yang bagi sahabat saya lainnya ucapan tersebut terdengar seperti ‘buah tepak’). Hahahahahaha…, kok jadi ngelantur.

OK, back to the topic, yang jelas blog ini lahir sebagai wadah untuk menampung segala bentuk gelisah yang silang sengkarut, berjalin kelindan mengganggu rasa dan logika saya. Sebagai manusia biasa saya bukanlah orang yang pandai berkata-kata, dan kegelisahan saya belum tentu juga bermakna sesuatu bagi orang lain.  Tapi, daripada gelisah itu tak berujung apa-apa, mending saya tulis aja dalam blog ini, seperti buku harian ala remaja 80 an, hehehehehe. Akhirnya, nama itu juga yang saya ambil sebagai nama buat rumah saya ini. Ya…, wadahgelisah, hehehehehe…

Ketika saya masih berencana melahirkannya, kebetulan saya bertemu dengan teman lama, seorang profesional di bidang IT. Ia menawarkan untuk bangunan  sebuah ‘rumah’  yang lebih representatif, tapi saya tolak, tanpa mengurangi rasa terima kasih kepada kawan lama saya itu. Alasannya, sebenarnya saya malu. Saya bukan siapa-siapa, juga bukan orang yang memiliki pemikiran atau gagasan cemerlang. Saya pun tak memiliki posisi atau kekuasaan untuk membuat perubahan yang besar dan berarti. Rasanya terlalu berlebihan jika saya memilih ‘rumah mewah’ untuk wadahgelisah saya.

Ah sudahlah, saya puas dengan kondisi ala kadarnya ini. Toh, saya juga bukan orang yang pandai menuangkan kegelisahan dalam tulisan yang enak dan menarik dibaca. Bagi saya, asal cerita gelisah saya bisa dipahami dan dimengerti orang lain saja sudah cukup. Syukur kalo ada yang tertarik untuk memberikan komentar, sharing, atau diskusi, hingga sedikit menelorkan jalan keluar.

Finally, wadahgelisah is officially launched. Salam kenal, dan mari berbagi.

Dari Nonton Kabuki di BBJ

•December 18, 2008 • 2 Comments

Sekira awal Desember lalu, bersama seorang sahabat, saya berjanji nonton pertunjukkan Kabuki di Bentara Budaya Jakarta. Karena kesibukan masing-masing, lama saya tidak bertemu sahabat saya itu, hingga acara nonton menjadi ‘kencan’ menarik bagi kami.  Selain juga karena acaranya menarik, gratis pula, tempatnya pun sangat dekat dengan tempat tinggal saya, hingga tentu saja tidak perlu keluar ongkos untuk transport.

Setelah terlebih dahulu janji ketemu di tempat saya, kami pun menuju BBJ, sambil dengan rasa penasaran membayangkan bagaimana kira-kira pertunjukannya. Apalagi sahabat saya itu pernah berkunjung ke Jepang, dan tahu betul budaya di sana. Sayangnya, rasa penasaran dan gairah membara kami untuk menyaksikan seni pertunjukkan kuno Jepang itu harus ternodai oleh ulah security BBJ.

Begitu kami tiba di depan BBJ, ada seorang security yang sudah berdiri menghadang di sana. Lantas saya bertanya, di mana pertunjukkan Kabuki digelar. Jawaban security tu sempat membuat saya jengkel, karena dia bilang bahwa harus ada tiket untuk melihat pertunjukkan tersebut. Padahal, jelas-jelas undangan dari Japan Foundation selaku penyelenggara acara yang disampaikan oleh kawan saya melalui sms, jelas-jelas tidak menyebutkan harus registrasi atau mengambil tiket terlebih dahulu.

“Wah terancam gagal deh nonton Kabuki,” keluh saya membatin.  Terus terang jika gagal saya merasa tidak enak pada sahabat saya itu, karena saya lah yang mengajaknya nonton malam itu. Saya pun menanyakan bagaimana cara memperoleh tiketnya, apa dengan membeli atau harus menghubungi pihak JF, atau bagaimana? Karena acara berlangsung dua hari, saya berharap jika hari ini gagal, masih bisa mengantarkan sahabat saya mencari tiket untuk acara esok harinya.

Sayangnya, security itu tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi saya. Selain tidak bisa menunjukkan bagaimana mendapatkan tiketnya, dia malah tidak tahu kalau acara itu digelar dua hari. Benar-benar payah memang. Untung saja, ketika kami sedang negosiasi dengan security itu, muncul petugas yang lain mendatangi kami. “Ada apa, mbak?” Ia bertanya. Kami pun menjelaskan persoalannya, petugas itu mengerti, dan mempersilakan kami untuk masuk. “Langsung masuk aja, gratis kok,” katanya.

Syukur deh, akhirnya saya dan sahabat saya bisa juga nonton kabuki. Kemasan acaranya sendiri sangat menarik. Selain pertunjukkan Kabuki itu sendiri, mereka juga memperkenalkan sejarah Kabuki, apa arti tarian pembuka pada pertunjukkan kabuki itu, dan bagaimana cara merias artis kabuki. Kami pun diajak untuk mempelajari dasar-dasar tarian yang biasa ditarikan oleh artis Kabuki.

Cerita yang diambil pada malam itu adalah tentang legenda samurai Jepang Yoshitsune dengan kekasihnya seorang putri dan abdinya, yang ternyata adalah penjelmaan seekor rusa. Abdi itu sekaligus pelindung sang putri, karena putri tersebut memiliki sebuah genderang yang dibuat dari kulit induk sang rusa. Dengan tarian-tarian khas Jepang dan pakaian-pakaian tradisionalnya, pertunjukkan Kabuki tersebut dihidangkan.

Ada catatan kurang menarik dari pertunjukkan tersebut. Ini sebenarnya hanya soal teknis, tetapi sangat mengganggu saya dan sahabat saya mungkin juga sebagian penonton. Karena seluruh pengisi acara didatangkan langsung dari negeri Matahari Terbit sana, maka tak satu pun kru yang bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya didatangkan seorang penerjemah. Catatan ini bukan tentang cara penerjemahannya yang tak bisa dimengerti. Tapi karena sang penerjemah yang tidak sadar posisi.

Setting panggung diatur berbentuk setengah lingkaran. Jadi sisi kiri dan kanan panggung pun dipenuhi oleh penonton. Tetapi yang menyebalkan adalah sang penerjemah yang berdiri dengan santai di sisi kanan panggung ketika ia menerjemahkan pemaparan  kru, yang sedang mempresentasikan make up seorang artis Kabuki. Tentu saja penonton yang berada di sisi kanan panggung tidak bisa melihat aksi sang artis yang sedang make up, apalagi memfotonya, padahal sangat menarik.

Mungkin itu catatan khusus bagi panitia yang dengan sengaja memilih setting setengah lingkaran untuk panggung. Agar mereka lebih hati-hati mengatur posisi orang yang tampil di panggung, apalagi tidak ada beda ketinggian antara penonton dan panggung. Mungkin juga catatan bagi pengelola BBJ, agar lebih jelas memberikan arahan pada petugas-petugasnya, sehingga tidak terjadi kesalahan yang mempersulit penonton. Semoga bisa jadi pelajaran di lain waktu, untuk peningkatan kualitas seni pertunjukkan kita.

Balada Angkutan Rakyat Jilid 1

•December 17, 2008 • Leave a Comment

Diantara kawan-kawan yang tinggal di Jakarta, pasti ada yang biasa melakukan ritual mudik, alias pulang kampung ketika hari raya atau musim libur panjang? Antrian panjang di loket-loket penjualan tiket baik kapal laut, kereta api, maupun bus, tentu bukan pemandangan baru lagi, bukan? Apalagi untuk angkutan jurusan Jawa Tengah, atau Jawa Timur yang tidak pernah sepi oleh antrian di saat libur menjelang. Mereka yang sanggup memilih tiket pesawat untuk pulang kampung pun harus pesan tiket jauh-jauh hari, kalau tidak mau mendapat jawaban, “maaf untuk tanggal yang bapak atau ibu minta sudah full book,” dari agen-agen perjalanan.

Selain harus kuat berdiri dalam antrian panjang, khusus bagi pengguna kereta api, mereka harus menyisihkan waktunya jauh-jauh hari, sejak sebulan atau 30 hari sebelum tanggal keberangkatan, jika tidak ingin kehabisan. Saya pun pernah mengalami antri tiket kereta api, untuk pulang kampung saat lebaran, atau libur panjang. Bagi saya sendiri, kereta api masih merupakan pilihan transportasi yang nyaman dan terjangkau. Menjelang lebaran tahun lalu (2007), saya mendapatkan cerita yang menarik ketika mengantarkan teman pesan tiket untuk pulang ke Jogja. Saya sendiri sudah mendapatkan tiket pulang kampung. Beruntung, bidang kerja saya tak terikat jam kantor (nine to five), jadi saya bisa ngantri kapan aja tidak harus pada Sabtu atau Minggu.

Saat itu hari Sabtu, sekitar tiga minggu menjelang lebaran. Di stasiun saya berkenalan dengan seorang ibu, ia rela antri dari habis sahur, demi mendapatkan tiket duduk untuk anak-anaknya yang masih kecil. Asal kawan ingat, budaya pulang kampung orang Indonesia, jangankan tiket duduk, tiket berdiri pun jika musim libur lebaran juga habis dibeli.bahlan PT. KAI harus memberangkatkan kereta tambahan demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin berlebaran bersama keluarga di kampung masing-masing.

Pengalaman antri sejak subuh itu, ternyata bukan fenomena langka. Banyak orang yang juga melakukan hal serupa demi mendapatkan tiket transportasi mudik yang nyaman. Tentu saja nyaman ukuran mereka, yang jika dibandingkan dengan sebagian orang mungkin tetep saja masih tidak nyaman. Karena, jangankan saat libur lebaran, saat libur panjang atau long weekend saja, pengguna jasa kereta api sudah berjubel tidak karuan.

Saat itu, kereta kelas bisnis akan berubah suasana layaknya kereta ekonomi, orang-orang berjubel duduk dan tidur di sepanjang lorong gerbong kereta, bahkan sampai ada yang rela duduk berteman dengan bau sepanjang malam di kamar mandi. Belum lagi kereta dipenuhi para ’penumpang berseragam’ yang sering menggunakan jasa angkutan ini tanpa tiket, alias bayar di atas. Biasanya mereka naik berombongan, dari Jakarta ke Surabaya dengan kereta bisnis mereka cukup merogoh kocek 10 ribu. Bandingkan dengan tiket normal seharga 120ribu, yang jika hari libur bisa naik sekitar 140-160 ribu. Yah tak mengapalah namanya juga abdi negara, harus ada kompensasi untuk tugas berat mereka menjaga ibu pertiwi agar selalu aman tenteram. Begitukah?

Selain PT. KAI yang menuai untung, saat libur panjang juga adalah saat-saat menyenangkan bagi para calo tiket. Jika harga tiket resmi dari PT. KAI sudah naik dibandingkan dengan hari-hari biasa, di tangan para calo harga tiket bisa lebih mahal lagi. Sebagai contoh, kala saya ke surabaya saat libur panjang, tiket KA Sembrani yang pada hari biasa seharga 240 ribu naik menjadi 300 ribu. Menjelang jam keberangkatan, di stasiun saya ditawari tiket oleh para ’pedagang dadakan’ itu. ”Mbak, mau kemana mbak, Jogja, Solo, Semarang, Surabaya,” begitu tawar mereka. Saya yang sudah memegang tiket, iseng-iseng bertanya, ”Sembrani ke Surabaya berapa bang?” Jawaban mereka membuat saya geleng-geleng kepala, ”400 ribu neng,”. ”busyyeeetttt,” umpat saya sambil ngeloyor pergi.

Meski harga itu masih bisa ditawar, tapi saya yakin jatuhnya tidak akan kurang dari 360-380 ribu. Hitung saja berapa persen kenaikannya. Fenomena ’pedagang dadakan’ ini memang marak di Indonesia, terutama pada momen-momen tertentu. Kenapa?, apakah hal ini adalah hal yang wajar melanda negara-negara berkembang? Jawaban simpelnya mereka ada karena ada peminat. Saya pernah membaca buku karya Gola Gong, Journey, From Jakarta to Himalaya. Ia menuliskan bahwa calo, tidak akan laku di India, karena warga di sana rela antri berpeluh-peluh demi mendapatkan sebuah tiket kereta meski hanya kelas ekonomi. Alasannya, penduduk India sangat miskin, mereka tidak punya uang lebih untuk membeli tiket dengan harga melambung dari tangan para calo.

Hal yang menggelitik sel abu-abu saya adalah, jika Indonesia dan India sama-sama negara berkembang, yang jumlah penduduk miskinnya lebih banyak. Lantas kenapa di Indonesia, orang masih mampu untuk membeli tiket dari tangan para calo. Sebenarnya mereka miskin, atau hanya pura-pura miskin? Ataukah yang membedakan adalah kemauan untuk kerja keras? Maksud saya, jika kondisinya sama-sama miskin, si India akan menghitung benar-benar setiap rupee yang mereka keluarkan, sementara si Indonesia demi kemudahan dan jalan pintas akan dengan mudah juga menghamburkan rupiahnya.

Sementara, jika bicara sistem angkutan kereta api, kita tak lepas juga dengan ulah para pejabat kereta api yang untuk momen-momen ramai penumpang selalu mendapat jatah tiket. Jika petugas penjualan tiket mengatakan, tiket habis, itu bullshit!!! Karena jatah tiket sebenarnya masih tersedia tapi telah dikapling untuk ’pihak-pihak yang berwenang’. Ini bukan tuduhan, karena saya punya teman, yang saudara kawannya pernah kerja di PT. KAI yang dulu masih bernama PJKA. Pada teman saya, kawannya itu pernah berujar, ”Sayang saudara gue udah pensiun, coba kalau masih, lu pasti bisa dapet tiket mudik dengan mudah. Gak perlu deh sampe keringetan ngantri,”. Nah loh….

Jadi kesimpulan saya, jika kawan hidup dan tinggal di Indonesia, kawan harus memiliki teman, saudara, atau kenalan pejabat untuk memperoleh kemudahan. Kalau tidak, kawan harus memiliki rupiah yang berlebih demi membeli jasa para ’pedagang dadakan’ yang siap memberikan servis kapan dan apapun yang kawan butuhkan. Jika kawan tidak memiliki kedua-duanya, yah berarti nasib kawan sungguh sial seperti saya. Solusinya, harus mau bekerja sedikit lebih keras dan tidak bermalas-malas untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Sanggupkah, kawan? Ya..mau tak mau harus sangup..hahahaha.

Balada Angkutan Rakyat Jilid 2

•December 17, 2008 • Leave a Comment

Tulisan kali ini masih transportasi umum yang semrawut tak kunjung membaik. Sementara kondisi bagi pejalan kaki yang sangat memprihatinkan, kondisi kendaraan umum di Jakarta lebih parah lagi. Meski mereka mengangkut lebih banyak penumpang, tak satupun jalan di Jakarta yang memberi jalur khusus bagi kendaraan ini. Hanya bus transJakarta yang memilikinya, itu pun harus rela dibagi dengan kendaraan lain, terutama pada jam masuk dan pulang kantor.

Pun kondisi kendaraan umum di Indonesia, atau Jakarta khususnya yang jarang sekali ada peremajaan. Contoh yang sangat mudah kita temui adalah metromini dan kopaja, moda transportasi yang sangat dikenal di Jakarta. Beberapa metromini dan kopaja kondisinya sangat memprihatinkan, saya bisa mngatakan demikian, karena saya adalah langganan pengguna dua moda transportasi populer tersebut.

Saya pun pernah punya pengalaman menarik ketika sedang memanfaatkan jasa angkutan umum ini. Pengalaman pertama, ketika saya dari terminal Blok M, ingin pulang ke Palmerah. Kala itu, cuaca mendung, sepertinya hanya menunggu hitungan detik, sebelum butir-butir hujan membasahi tanah Jakarta. Begitu Kopaja 608 lewat di depan saya, langsung aja saya melompat naik.

Perkiraan saya benar, baru keluar terminal, hujan yang sangat deras mengguyur Jakarta. Penumpang di dalam kopaja yang semula tenang, semenit kemudian menjadi panik, termasuk saya. Penyebabnya adalah, di dalam mini bus, yang seharusnya terhindar dari hujanpun kita masih kehujanan. Beberapa titik di atap kopaja tersebut bocor, hingga membasahi kursi penumpang. Sementara beberapa jendelanya ternyata telanjang tanpa kaca.

Hal yang lebih menakutkan, dan membuat penumpang cemas adalah, wiper kaca mobilnya tidak berfungsi sehingga tidak bisa menghalau air hujan yang menimpa kaca. Terang saja pemandangan ke depan menjadi sangat gelap, sementara lalu lintas begitu padatnya, hingga rawan sekali celaka. Masih ditambah kepanikan berebut kursi yang tidak basah.

Cerita lain lagi terjadi ketika saya bersama teman berencana ke Senen. Kita berangkat dengan metromini 15, jurusan Setiabudi – Senen, dari Karet. Sampe di daerah Menteng, menuju Sabang, dengan tiba-tiba mini bus yang sudah tidak jelas umurnya itu mogok. Sama sekali tidak bisa dijalankan. Alhasil, temen saya, yang ternyata satu-satunya laki-laki dalam angkutan itu terpaksa ikut turun untuk mendorong bus tersebut. Setelah si sopir dengan enteng teriak pada keneknya, “Sono noh minta bantuan yang laki-laki buat ngedorong, dua orang aja cukup kok”.

Saat itu langsung terbayang, kira-kira sudah berapa tua ya, usia kendaraan ini? Sudah berapa lama ia menelusuri jalanan Jakarta melawan terik dan hujan, tanpa pernah diperhatikan kondisinya. Ah, ibarat manusia mungkin usia metromini itu sudah tak lama lagi. Pasti beragam penyakit kronis, encok, asam urat, diabetes, darah tinggi, jantung, paru-paru, dan lain-lain, sudah bersarang pada tubuhnya yang renta.

Menurut pengamatan saya, kondisi kendaraan umum di Jakarta yang memprihatinkan di antaranya metromini, kopaja, koantas, dan kopami, semuanya masuk dalam species mini bus. Meski ada juga beberapa bus yang kondisinya tak kalah menyedihkan. Sementara untuk angkutan umum jenis mikrolet, kondisinya masih cenderung bisa dimaklumi, tetapi pasti akan bernasib sama, jika pengusaha angkutan tidak memberikan perhatian atau mulai berhitung untuk menginvestaskan sedikit keuntungan bagi peremajaan kendaraan mereka.

Jika kita bertanya kepada pengusaha angkutan tersebut, pasti alasan utama adalah keuntungan yang tidak seberapa tiap harinya, tidak mencukupi untuk berpikir investasi bagi peremajaan angkutan mereka. Kalau sudah demikian lantas terpikir oleh saya, apakah keuntungan para penyedia jasa transportasi ini begitu minimnya? Ataukah sebagaimana pemikiran masyarakat Indonesia pada umumnya yang selalu berpikir minimalis alias ala kadarnya, “angkot begini saja yang naik pada antri-antri sampe berdiri, ngapain pake harus berpikir peremajaan segala,”.

Di sisi lain, sebagai pengguna setia jasa trasnportasi umum Jakarta, iseng-iseng saya pernah menghitung frekuensi lewatnya beberapa kopaja dan metromini. Sebagai contoh, kopaja P 20 jurusan Lebak Bulus-Senen, angkot ini cukup sering frekuensi lewatnya , mungkin bisa sekali setiap 5 menit. Begitu pula metromini 640 jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang, yang dengan mudah bisa kita temui di sepanjang trayeknya.

Sementara kalau teman-teman pernah menggunakan jasa kopaja 86 jurusan Lebak Bulus-Kota, atau metromini 85 jurusan Kalideres-Lebak Bulus, teman-teman bisa menunggunya sambil makan dulu di warteg terdekat. Karena frekuensi lewatnya memang jarang, bisa sekitar setengah jam sekali. Sementara itu, jika naik angkot ini, teman-teman jangan berharap mendapatkan tempat duduk, karena dijamin selalu penuh, sampai meluber (kayak air saja luber).

Dari beberapa perbandingan angkutan umum di Jakarta tersebut, saya melihat jumlah penumpang juga sama banyaknya. Berarti ini terkait dengan supply and demand, (pelajaran ekonomi jaman sekolah dulu). Nilai permintaan atau demandnya samatetapi yang membedakan adalah nilai ketersediaan atau supplynya. Akhirnya timbul pertanyaan lagi dalam otak saya, apakah tidak ada survey khusus dari pemerintah, khususnya Dinas Perhubungan DKI yang berkaitan dengan penyediaan angkutan umum berbanding permintaan jumlah penumpang?. Sebelum akhirnya mereka menetapkan kuota jumlah angkutan umum pada trayek tertentu.

Satu Lagi, Kisah Sedih Bangunan Cagar Budaya

•December 16, 2008 • Leave a Comment

bangunan utama rumah tuan tanah perkebunan Karet di Karawaci

bangunan utama rumah tuan tanah perkebunan Karet di Karawaci

Ah, lagi-lagi berita menyedihkan tentang pembongkaran bangunan tua. Kali ini menimpa sebuah bangunan tua di Karawaci Tangerang. Dahulu bangunan ini adalah bangunan milik seorang tuan tanah perkebunan karet, di wilayah itu. Arsitektur bangunan ini adalah arsitektur Tionghoa, mirip dengan Gedung Candranaya, yang sampe sekarang nasibnya juga tidak jelas antara dialihfungsikan, tetep dipelihara, atau direnovasi.

Salah satu teman dari The Jakarta Post yang tulisannya sempat running mengulas pembongkaran ini, mengatakan, bahwa lahan tersebut akan dialihfungsikan sebagai apartemen. Ya Ammpuuuunnn, apartemen? Lagi-lagi bangunan tinggi yang fungsinya tak jauh-jauh dari hotel, apartemen, kondominium, perkantoran, mall dan sekitar-sekitar situ lah. Ah, akan mengoleksi berapa banyak bangunan macam itu, kota kita ini? Belum lagi efek bangunan baru tersebut terhadap lingkungan, bagaimana dengan pemukiman sekitarnya? Apakah ada jaminan, bangunan baru itu menyediakan resapan air sehingga jika musim penghujan tiba tak akan menggenangi pemukiman sekitarnya?

Dari beberapa ulasan yang saya baca, ada dua bangunan dalam satu lokasi tersebut. Rumah utama bergaya arsitektur China, sedang rumah lain bergaya indis, sebuah langgam arsitektur Eropa yang telah beradaptasi dengan kaidah-kaidah arsitektur tropis. Menurut jejak sejarah yang bisa ditelusuri dari google engine, bangunan ini dibangun pada awal abad ke-18 oleh Letnan China Oey Djie San yang menguasai perkebunan di Karawaci, Cilongok. Ketika Belanda mulai memperkenalkan Perkebunan Karet di Jawa, pada 1874, bangunan ini adalah milik seorang tuan tanah perkebunan karet terbesar kala itu. Menurut beberapa catatan, rumah ini juga merupakan landhuis terakhir yang tersisa di sekitar Jakarta.

Menilik dari kondisinya, sebenarnya sayang sekali jika bangunan ini harus menerima nasib keruntuhannya, karena kondisi bangunan ini relatif masih utuh. Jika dibandingkan dengan Gedung Candranaya, yang bentuknya hampir mirip, tapi hanya tersisa bangunan utamanya saja, rumah tuan tanah ini jauh lebih baik, karena kedua sayapnya masih utuh. Sayang atas suruhan ahli waris  bangunan ini mulai diruntuhkan sekitar September 2008.

Yori Antar, seorang arsitek juga pemerhati bangunan cagar budaya dalam salah satu komentarnya mengatakan, ”Tangerang mengalami amnesia sejarah bila bangunan ini benar-benar dibongkar. Ia juga mendorong masyarakat atau siapa saja yang mengetahui, jika ada arsitek yang terlibat dalam proses pembongkaran bangunan tersebut, agar tak segan-segan melaporkan ke Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Sementara menurut Budi Lim, sesuai dengan sejarah arsitektur, seluruh bagian bangunan ini sebenarnya masih lengkap, beserta situsnya. Bangunan ini sendiri dibangun di Indonesia, sementara turunannya kemudian muncul di Sri Lanka, dan akhirnya menyebar ke beberapa kota di dunia.

Sementara itu, Walibatu (Warga Peduli Bangunan Tua), pernah menerima sebuah surat dari Ronald G. Knapp, Professor and Chairman Departement of Geography, State University of New York at New Paltz. Knapp adalah penyusun buku Chinese Houses: The Architectural Heritage of Nation (2005) dan Chinese Bridges: Living Architecture from China’s Past (2008). Dalam suratnya, Knapp yang pernah mengunjungi Rumah Perkebunan Karet di Karawaci mengatakan, “It is very, very sad to see these efforts to destroy an historically – and architecturally – significant residence. This is especially painfull for those who value the multi-cultural and multi-ethnic heritage in Indonesia. It is a tragedy to see that the demolition has already begun,”. Nah orang yang tidak ikut memiliki saja sangat menyayangkan, gimana kita sebagai empunya malah diam melihatnya dibongkar di depan mata kita? Sama saja kita diam melihat, tangan atau kaki kita dipotong, bukan?



GBK, Masa Jayamu yang Tak Jua Kembali

•November 26, 2008 • 1 Comment

Pekerjaan mengharuskanku menulis tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno, karena tempat ini baru saja mengalami perbaikan untuk Final Piala Asia tahun lalu. Wawancara dengan sang arsitek sudah kulakukan, bahkan data-data penunjang riset dari internet juga sudah lengkap. Permasalahannya justru setelah mendengarkan ulang hasil wawancara dan membaca hasil riset dari internet, justru perlahan mengurangi semangatku untuk menulis.

Tidak ada yang salah dengan tempat yang dimulai pembangunannya pada 8 Februari 1960 ini. Hal yang membuat semangatku tergerus adalah kondisi bangunan yang merupakan architecture heritage ini yang kondisinya tak terpelihara, terlantar dimakan zaman.

Sejarah menjelaskan, bahwa bangunan yang diresmikan pada 1962 ini adalah usaha dari Soekarno untuk mewujudkan tantangan dunia, menyelenggarakan Asian Games di indonesia.Ya…Asian Games, sebuah perhelatan olahraga terakbar, yang diikuti bangsa-bangsa se asia.

Dalam konsepnya, kala itu, kompleks olahraga yang kemudian dikenal dengan sebutan Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno (GBK) akan dijadikan sebagai integrated sport venues.Komplek olahraga terpadu yang kala itu belum pernah ada di belahan dunia mana pun. Bangunan ini pun dibangun dengan teknologi mutakhir kala itu, yang mampu menampung 110.000 penonton. Titik tolak pembangunannya ditandai dengan pemancangan tiang pertama oleh Bung Karno di Stadion Utama.

Mega proyek yang menelan biaya sekitar Rp 1,096 miliar bantuan dari uni sovyet ini, akhirnya diresmikan pada 21 Juli 1962 tepat pukul 5 sore. Bung Karno memberikan sambutannya sekaligus menandai gladi resik pembukaan Asian Games IV/Jakarta 1962, di tengah stadion megah tersebut. Momen tersebut juga menjadi bukti kepada dunia bahwa indonesia kala itu, mampu mewujudkan mimpinya membangun sebuah situs olahraga terbesar di dunia.

Integrated sport venues direalisasikan dengan berdiri megahnya seluruh venue olahraga berstandar internasional. Ditambah lagi fasilitas yang sengaja dibangun untuk mendukung pelaksanaan Asian Games IV, seperti Jembatan Layang Semanggi, Stasiun Pemancar TVRI, 4 areal parkir mulai dari Timur, Barat, Selatan dan Utara. Alhasil, indonesia yang semula diragukan dapat menjadi penyelenggara Asian Games IV, justru tampil sebagai negara yang paling siap di dunia untuk menggelar perhelatan olahraga skala internasional.

Tak hanya itu, kala itu,Indonesia berhasil meraih sukses ganda, sebagai penyelenggara sekaligus menempatkan diri sebagai runner up dalam pesta olahraga tersebut. Dengan 11 emas, 12 perak dan 28 perunggu, didukung 333 atlit, indoenesia berhasil duduk di bawah jepang yang menyabet gelar juara umum. Sukses yang tak mampu kembali diwujudkan oleh indonesia, bahkan hingga hampir 46 tahun kemudian.

Sungguh, itu merupakan sukses yang tak bisa lepas dari tekad, komitmen, dan kepedulian dari seorang pemimpin dalam memajukan bangsa, yang sayangnya, tidak diwarisi oleh kelima penerusnya. Menjelang ulang tahunnya yang ke 46, bangunan ini hanya bisa menjadi situs kuno yang ikut usang di makan zaman. Jangankan untuk dapat mengulang sukses penyelenggaraan Asian Games (Asia), untuk SEA Games (Asia Tenggara) saja, GBK sudah dianggap ketinggalan zaman dan tidak representatif lagi.

Benar-benar sangat disayangkan mengingat kapasitas tempat ini mendudukkannya sebagi Stadion terbesar ketiga di Asia. Tempat pertama justru diduduki oleh negara yang bukan raksasa sepak bola Asia, yakni Stadion Rungrado May Day dengan kapasitas 150.000 penonton di kota Pyongyang , Korea Utara . Disusul Salt Lake Stadium yang memuat 120.000 penonton  di Kalkuta , India pada urutan kedua.

Di tingkat Asia Tenggara saja, keberadaannya kini telah dikalahkan oleh kompleks olahraga bukit jalil malaysia yang telah dilengkapi sarana dan fasilitas yang canggih. Bahkan thailand sudah sanggup menyediakan fasilitas olahraga bertaraf international untuk SEA Games, di chiang mai, yang notabene adalah kota ketiga di negara itu.

Sebaliknya GBK sendiri hanya pernah mengalami renovasi 3 kali yakni pada tahun 1993 menjelang Piala Thomas dan Uber 1994, menjelang pelaksanaan SEA Games XIX/Jakarta 1997. Padahal saat itu indonesia justru sedang berada di bawah kendali pemerintahan seorang ‘Bapak Pembangunan’. Sungguh sebuah ironi. Kita bisa berkaca dari hal di atas,  ternyata selama ini, yang kita lakukan terhadap sebuah aset bangsa hanya lah menggunakan dan cenderung merusak, tanpa ada keinginan untuk menjaga dan memelihara. Bahkan kerusakan besar yang dialami oleh GBK justru ketika tempat ini menjadi markas perlindungan bagi TNI, saat reformasi. Semoga bisa benar-benar menjadi kaca yang jernih bagi perilaku kita.

Jakarta, Tidak untuk Pejalan kaki dan Pengendara Sepeda

•November 26, 2008 • 1 Comment

Sudah bukan fakta baru jika Jakarta adalah kota yang tidak ramah bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Bahkan jalan-jalan  besar di kota ini banyak yang tidak dilengkapi dengan pedestrian way atau trotoar. Contoh lain adalah Bandung, kota yang terkenal dengan udara sejuknya sehingga enak untuk jalan-jalan pun, banyak ruas jalannya yang tidak memiliki trotoar. Hal ini tentu saja membuat orang-orang lebih memilih naik kendaraan bermotor daripada berjalan.

Pun budaya bersepeda, yang semakin hilang dari masyarakat kita tergerus arus maraknya pemakaian kendaraan bermotor. Sepeda sebagai sarana transportasi seolah terlupakan begitu saja, terutama di kota-kota besar apalagi Jakarta. Pembangunan pemerintah pun lebih fokus ke infrastruktur berupa jalan-jalan yang memanjakan kendaraan bermotor terutama mobil. Apalagi mobil di Jakarta bertambah sangat cepat beberapa tahun terakhir.

Dari tulisan tentang transportasi yang saya baca pada sebuah jurnal, antara tahun 1994 hingga 2006, jumlah mobil di Jakarta bertambah tiga kali lipat menjadi 1,8 juta. Tidak jelas apa yang menyebabkan pertambahannya begitu pesat, mungkin juga karena perkembangan infrastruktur di Indonesia, terutama Jakarta, yang sangat memanjakan kendaraan pribadi terutama mobil daripada kendaraan umum. Jalan-jalan bebas hambatan dibangun, lebih untuk menampung laju kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Terbukti, jika pada 1990an Jakarta masih menyediakan lajur khusus untuk bus, saat ini bahkan bus transJakarta, yang sudah memiliki jalur khusus harus menyerah pada kendaraan pribadi.

Masih dari jurnal yang sama, dibanding dengan pengendara mobil di Eropa, khususnya Paris, pengendara mobil Jakarta sangatlah dimanja. Mereka hanya perlu kesabaran dan kaki kiri yang kuat untuk menginjak kopling karena kemacetan. Para pengguna mobil ini tidak perlu merasakan pusingnya sebentar-sebentar harus berhenti untuk memberi jalan bagi pejalan kaki, bahkan di zebra cross yang adalah tempat khusus pejalan kaki menyeberang sekalipun.

Kita juga bisa tengok keberadaan jembatan penyeberangan yang dibangun dengan puluhan anak tangga menjulang, yang sebenarnya hanya memuluskan laju pengguna kendaraan pribadi terutama yang beroda empat. Sementara sebagai pejalan kaki harus bersusah payah menaiki jembatan tersebut, bahkan kadang-kadang ditambah harus berjalan memutar. Khusus pengguna kendaraan roda dua pun diperlukan keberanian ekstra untuk mengendarai motornya menaiki jembatan penyeberangan dengan tanjakan yang sangat curam.

Dibandingkan dengan Paris, dari artikel yang saya baca, selebar apapun jalan raya di sana tak satu pun yang menggunakan jembatan penyeberangan. Pejalan kaki bisa dengan bebas menyeberang sementara, mobil dan kendaraan lain harus mengalah. Setiap zebra cross dilengkapi dengan lampu merah, sehingga justru kendaraan yang harus berhenti di setiap deretan lampu merah yang seolah tak ada habisnya.

Di sisi lain, pedestrian ways yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, malah sering termakan untuk para pedagang permanen. Lihat saja di ruas Jalan Gerbang Pemuda dan Jalan Asia Afrika di kawasan Senayan. Pedestrian waynya justru dipenuhi oleh penjual bunga yang sepertinya menggelar dagangan mereka secara permanen di sana. Bahkan saya pernah mengalami pengalaman buruk ketika berjalan kaki di daerah itu. Sebagai pejalan kaki yang punya hak atas trotoar, saya dipaksa harus mengalah dengan para penjual dan pembeli bunga, apalagi jika hari libur. Sementara saya harus mengalah dengan berjalan di tepi jalan raya, saya masih harus bersabar berjalan dengan hati-hati menghindari kendaraan yang melaju kencang sembari meliuk-liuk di sela mobil-mobil pembeli yang diparkir berderet di sana.

Hanya sebagian kecil jalan di Jakarta yang memiliki pedestrian way bagus dan terawat. Sedangkan sebagian lainnya ada, tapi kondisinya sangat menyedihkan. Lantas, bagaimana dengan jalur pengendara sepeda? Hal itu pun juga belum mendapat perhatian dari pembangunan Jakarta sampe saat ini. Beruntung pada hari minggu-minggu tertentu, warga Jakarta masih bisa merasakan pagi yang sehat tanpa polusi, karena sebagian ruas Jalan Sudirman sampai Thamrin ditutup untuk lajur pengendara sepeda. Itu pun masih dalam rangka bersepeda untuk santai bukan dalam artian mengendarai sepeda sebagai pilihan transportasi.

Pejalan kaki dan pengendara sepeda memang hanya lah warga kelas kambing di Jakarta nan megah dan mewah ini. Keberadaannya sama sekali tidak tersentuh dari pembangunan Jakarta yang begitu glamour dan menyilaukan. Akhirnya menjadi sebuah kewajaran jika masyarakat Jakarta lebih memilih memiliki kendaraan bermotor pribadi, baik roda dua maupun roda empat -bagi yang mampu- dengan cara apapun. Alhasil selamat menghirup udara Jakarta yang semakin penuh polusi.

Seni Budaya, Aset Berharga yang Terlupakan

•November 25, 2008 • Leave a Comment

Sebagai negara yang kaya akan ragam seni budaya, ternyata, perhatian pemerintah terhadap dunia seni di Indonesia masih lah sangat kecil. Tak heran jika tiba-tiba negeri tetangga kita bisa mengambil dan mengakui salah satu aset kesenian berupa lagu, sebagai lagu daerah mereka, atau alat musik, sebagai alat musik khas mereka. Jika hal ini dibiarkan bisa jadi negara kita akan kehilangan banyak lagi aset seni budayanya.

Masalah ini memang sudah lama berlalu, saya menliskannya hanya sekedar menyegarkan ingatan kita akan perhatian pemerintah terhadap seni budaya. Hal baru yang ingin saya bagi dalam tulisan ini adalah tentang fasilitas kesenian. Pernahkah kawan-kawan mendengar atau melihat sebuah bangunan yang memang dirancang untuk pergelaran event kesenian berskala besar yang komprehensif? Bahkan di Jakarta yang adalah ibukota negara dengan deretan gedung pencakar langit, berupa hotel, apartemen, dan pusat perbelanjaan pun tak memiliki bangunan dengan kualifikasi sebagaimana di atas.

Padahal Indonesia terkenal dengan beragam seni budaya yang tidak hanya bagus dimata negeri sendiri tapi juga berprestasi di Internasional. Teater misalnya Teater Tanah Airku asuhan Jose Rizal Manua, beberapa kali lolos seleksi festival teater anak sedunia, di Kyoto Jepang (2004), dan Lingen Jerman (2006). Juga prestasi seorang seniman muda, Firman Jamil, seniman Indonesia asal Sul-Sel yang salah satu karya seninya lolos seleksi dalam festival Seni Patung Outdoor di Taiwan dari 165 seniman pelamar dari berbagai belahan dunia. Beum lagi prestasi dari berbagai bidang seni yang lain.

Selain Taman Ismail Marzuki, hanya Galeri Nasional dan Gedung Kesenian Jakarta, dua bangunan milik pemerintah di Jakarta yang saat ini masih aktif menyelenggarakan acara-acara kesenian. Kedua bangunan itu adalah bangunan peninggalan masa kolonial. Kenyataan ini menunjukkan bahwa selama negara ini berdiri praktis hanya Taman Ismail Marzuki, fasilitas yang khusus dibangun oleh pemerintah untuk mewadahi acara-acara kesenian.

Sementara itu, tengoklah negara tetangga kita yang dengan bangga berlomba membangun fasilitas kesenian. Singapore dengan Esplanade, gedung menyerupai durian dengan arsitektur yang fantastis. Dibangun di tepi air dengan berbagai acara kesenian, mulai dari konser musik, teater, pertunjukan film, sampai pameran seni rupa, digelar di sana. Bahkan dalam gedung tersebut, pertunjukkan balet, dan opera klasik berlomba dengan pertunjukan-pertunjukan seni lokal.

Belum lagi Malaysia yang menghabiskan hampir $100 juta untuk membangun sebuah balai konser philharmonic, di bawah Petronas Tower yang menyajikan konser kelas dunia dan pertunjukan seni lokal. Malaysia pun kini giat menginvestasikan jutaan dolarnya untuk memperbaiki fasilitas pada beberapa museum dan galeri nasional mereka. Padahal jika ditilik dari aset seni dan budaya yang mereka punya masih kalah jauh dengan keragaman seni budaya kita.

Bagaimana dengan Jakarta yang adalah sesama ibukota negara? Kondisi museum dan galeri nasional di Indonesia sangat memprihatinkan. Hampir tidak ada perubahan koleksi pada museum-museum itu sepanjang tahun. Bahkan sebagian besar museum yang ada di Jakarta adalah bangunan peninggalan Belanda yang hanya dirubah fungsi begitu saja. Seolah-olah daripada bangunan itu tidak berfungsi sementara peraturan pemerintah terlanjur mencatatnya sebagai bangunan cagar budaya yang tidak boleh dipugar, difungsikan sebagai museum lah solusi gampangnya.

Pihak pengelola pun tidak mau susah-susah berusaha merubah image dengan mengadakan acara-acara seni yang menarik. Pameran, festival seni, atau secara periodik menambah koleksi baru adalah hal yang jarang sekali dilakukan oleh pengelola museum kita. Tak heran jika museum-museum di Jakarta dikenal hanya sebagai tempat hiburan murah meriah, yang dipilih sebagai alternatif terakhir. Berkunjung ke sana pun tidak banyak menambah hal baru, terutama bagi mereka yang sudah sering berkunjung ke museum.

Beruntung di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar di Indonesia masih dimanjakan dengan beberapa galeri seni dan pusat-pusat seni budaya luar negeri semisal CCF-Perancis, Goethe-Jerman, BC-Inggris, Erasmus Huis-Belanda, atau JF-Jepang. Lembaga-lembaga ini memang secara berkala menyelenggarakan acara-acara seni yang menarik dan berkualitas. Pun pada beberapa galeri seni yang dikelola oleh pihak swasta.

Tetapi dimana peran pemerintah kita yang mengelola uang dari hasil pajak yang kita bayarkan? Sebagai warga, toh kita berhak menikmati hiburan dengan kualitas dan fasilitas yang bagus juga. Tidakkah pemerintah mulai berpikir untuk membuka peluang investasi pada pembangunan fasilitas seni budaya, daripada terus mengijinkan pembangunan mal, apartemen, pusat perbelanjaan, yang sama sekali tidak meningkatkan pendidikan, apalagi menguntungkan masyarakat.