Diantara kawan-kawan yang tinggal di Jakarta, pasti ada yang biasa melakukan ritual mudik, alias pulang kampung ketika hari raya atau musim libur panjang? Antrian panjang di loket-loket penjualan tiket baik kapal laut, kereta api, maupun bus, tentu bukan pemandangan baru lagi, bukan? Apalagi untuk angkutan jurusan Jawa Tengah, atau Jawa Timur yang tidak pernah sepi oleh antrian di saat libur menjelang. Mereka yang sanggup memilih tiket pesawat untuk pulang kampung pun harus pesan tiket jauh-jauh hari, kalau tidak mau mendapat jawaban, “maaf untuk tanggal yang bapak atau ibu minta sudah full book,” dari agen-agen perjalanan.
Selain harus kuat berdiri dalam antrian panjang, khusus bagi pengguna kereta api, mereka harus menyisihkan waktunya jauh-jauh hari, sejak sebulan atau 30 hari sebelum tanggal keberangkatan, jika tidak ingin kehabisan. Saya pun pernah mengalami antri tiket kereta api, untuk pulang kampung saat lebaran, atau libur panjang. Bagi saya sendiri, kereta api masih merupakan pilihan transportasi yang nyaman dan terjangkau. Menjelang lebaran tahun lalu (2007), saya mendapatkan cerita yang menarik ketika mengantarkan teman pesan tiket untuk pulang ke Jogja. Saya sendiri sudah mendapatkan tiket pulang kampung. Beruntung, bidang kerja saya tak terikat jam kantor (nine to five), jadi saya bisa ngantri kapan aja tidak harus pada Sabtu atau Minggu.
Saat itu hari Sabtu, sekitar tiga minggu menjelang lebaran. Di stasiun saya berkenalan dengan seorang ibu, ia rela antri dari habis sahur, demi mendapatkan tiket duduk untuk anak-anaknya yang masih kecil. Asal kawan ingat, budaya pulang kampung orang Indonesia, jangankan tiket duduk, tiket berdiri pun jika musim libur lebaran juga habis dibeli.bahlan PT. KAI harus memberangkatkan kereta tambahan demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin berlebaran bersama keluarga di kampung masing-masing.
Pengalaman antri sejak subuh itu, ternyata bukan fenomena langka. Banyak orang yang juga melakukan hal serupa demi mendapatkan tiket transportasi mudik yang nyaman. Tentu saja nyaman ukuran mereka, yang jika dibandingkan dengan sebagian orang mungkin tetep saja masih tidak nyaman. Karena, jangankan saat libur lebaran, saat libur panjang atau long weekend saja, pengguna jasa kereta api sudah berjubel tidak karuan.
Saat itu, kereta kelas bisnis akan berubah suasana layaknya kereta ekonomi, orang-orang berjubel duduk dan tidur di sepanjang lorong gerbong kereta, bahkan sampai ada yang rela duduk berteman dengan bau sepanjang malam di kamar mandi. Belum lagi kereta dipenuhi para ’penumpang berseragam’ yang sering menggunakan jasa angkutan ini tanpa tiket, alias bayar di atas. Biasanya mereka naik berombongan, dari Jakarta ke Surabaya dengan kereta bisnis mereka cukup merogoh kocek 10 ribu. Bandingkan dengan tiket normal seharga 120ribu, yang jika hari libur bisa naik sekitar 140-160 ribu. Yah tak mengapalah namanya juga abdi negara, harus ada kompensasi untuk tugas berat mereka menjaga ibu pertiwi agar selalu aman tenteram. Begitukah?
Selain PT. KAI yang menuai untung, saat libur panjang juga adalah saat-saat menyenangkan bagi para calo tiket. Jika harga tiket resmi dari PT. KAI sudah naik dibandingkan dengan hari-hari biasa, di tangan para calo harga tiket bisa lebih mahal lagi. Sebagai contoh, kala saya ke surabaya saat libur panjang, tiket KA Sembrani yang pada hari biasa seharga 240 ribu naik menjadi 300 ribu. Menjelang jam keberangkatan, di stasiun saya ditawari tiket oleh para ’pedagang dadakan’ itu. ”Mbak, mau kemana mbak, Jogja, Solo, Semarang, Surabaya,” begitu tawar mereka. Saya yang sudah memegang tiket, iseng-iseng bertanya, ”Sembrani ke Surabaya berapa bang?” Jawaban mereka membuat saya geleng-geleng kepala, ”400 ribu neng,”. ”busyyeeetttt,” umpat saya sambil ngeloyor pergi.
Meski harga itu masih bisa ditawar, tapi saya yakin jatuhnya tidak akan kurang dari 360-380 ribu. Hitung saja berapa persen kenaikannya. Fenomena ’pedagang dadakan’ ini memang marak di Indonesia, terutama pada momen-momen tertentu. Kenapa?, apakah hal ini adalah hal yang wajar melanda negara-negara berkembang? Jawaban simpelnya mereka ada karena ada peminat. Saya pernah membaca buku karya Gola Gong, Journey, From Jakarta to Himalaya. Ia menuliskan bahwa calo, tidak akan laku di India, karena warga di sana rela antri berpeluh-peluh demi mendapatkan sebuah tiket kereta meski hanya kelas ekonomi. Alasannya, penduduk India sangat miskin, mereka tidak punya uang lebih untuk membeli tiket dengan harga melambung dari tangan para calo.
Hal yang menggelitik sel abu-abu saya adalah, jika Indonesia dan India sama-sama negara berkembang, yang jumlah penduduk miskinnya lebih banyak. Lantas kenapa di Indonesia, orang masih mampu untuk membeli tiket dari tangan para calo. Sebenarnya mereka miskin, atau hanya pura-pura miskin? Ataukah yang membedakan adalah kemauan untuk kerja keras? Maksud saya, jika kondisinya sama-sama miskin, si India akan menghitung benar-benar setiap rupee yang mereka keluarkan, sementara si Indonesia demi kemudahan dan jalan pintas akan dengan mudah juga menghamburkan rupiahnya.
Sementara, jika bicara sistem angkutan kereta api, kita tak lepas juga dengan ulah para pejabat kereta api yang untuk momen-momen ramai penumpang selalu mendapat jatah tiket. Jika petugas penjualan tiket mengatakan, tiket habis, itu bullshit!!! Karena jatah tiket sebenarnya masih tersedia tapi telah dikapling untuk ’pihak-pihak yang berwenang’. Ini bukan tuduhan, karena saya punya teman, yang saudara kawannya pernah kerja di PT. KAI yang dulu masih bernama PJKA. Pada teman saya, kawannya itu pernah berujar, ”Sayang saudara gue udah pensiun, coba kalau masih, lu pasti bisa dapet tiket mudik dengan mudah. Gak perlu deh sampe keringetan ngantri,”. Nah loh….
Jadi kesimpulan saya, jika kawan hidup dan tinggal di Indonesia, kawan harus memiliki teman, saudara, atau kenalan pejabat untuk memperoleh kemudahan. Kalau tidak, kawan harus memiliki rupiah yang berlebih demi membeli jasa para ’pedagang dadakan’ yang siap memberikan servis kapan dan apapun yang kawan butuhkan. Jika kawan tidak memiliki kedua-duanya, yah berarti nasib kawan sungguh sial seperti saya. Solusinya, harus mau bekerja sedikit lebih keras dan tidak bermalas-malas untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Sanggupkah, kawan? Ya..mau tak mau harus sangup..hahahaha.